teRuntuk bisikan angin berhembus merdu. apa kabarmu?
sudah seAbad tak kurasakan dinginnya kehadiranmu
teruntuk angin muson dari timur. sedang dimana dirimu?
tak ku Lihat kau menunggu di pertigaan musim
teruntuk gumpalan angin dalam syahdu. kau tinggalkan kemana jejakmu?
ingin ku Daki jejak samar yang kau tinggaLkan di pucuk malam
teruntuk hembusan angin penawar racun. semBunyikah sosokmu?
tak ku paksakan jIka kita tak bersua, tetapi ketetapan telah tertulis di langit sana
tak mengapa jika kini lorong itu tetap gela, gersang, dan usang
ku tunggu kaU membuka gerbang kebahagian dengan membawa cahaya yang sempurna bak mahligai raja-raja dengan kata titipan surgawi yang mengukir senyum Wahai Pencipta.
pabila semasa nantI alunan jantung dunia berderap. dekaplah aku seperti kau mendekap hujan, Tetapi jangan kau jadikan aku bumI.
Karena aku bukanlah bumi yang tegar, bukan pula bumi yang meminta di kasihankan. dekaplah aku seperti malam mendekap bulan.
teruntuk kaum yang berpikir. gA ngerti ya? sudahlah baca saja. anggap saja itu pembuka untuk jiwa yang telah hilang selama 6 bulan. masih ga ngerti ya puisinya tentang apa? hemmm mungkin tentAng dia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar